Suatu
hari keponakan saya cerita bahwa menurut kawanya sekarang ada handphone yang bisa memutar dvd,
dengan cd yang kecil. Saat saya Tanya, “wah, beli dimana tuh?” maka dia
langsung menjawab “gak tahu om, di jonggol kali”
Tentu yang dimaksud tentu bukan jonggol yang jaraknya tidak begitu jauh dari Jakarta,
itu sebuah ekpresi untuk menggambarkan tempatnya yang belum jelas.
Pernahkah saat anda duduk didepan, kemudian
ada tetangga sedang lewat berjalan, terus anda menanyakan “wah, mau kemana
pak?” kemudian tetangga menjawab “ah enggak, jalan jalan aja”. Kata “ah enggak” itu sebenarnya tidak jelas,
tapi yang mengherankan baik tetangga itu maupun saya, seperti terjadi kesamaan
pengertian. Walaupun mungkin juga, bila ditelusuri lebih dalam, bisa saja
pemahamanya sangat berbeda.
Inilah yang disebut psychosemantics. Arti
sebuah kata punya pengertian subjektif yang tiap orang bisa berbeda maknanya
secara mental Walaupun begitu, sering sekali karena sering diucapkan, maka
seakan akan kita punya pemahaman berbeda. Kata “jonggol” untuk orang yang
sering berkomunikasi dengan kata ini dan terbiasa akan makna umum (walaupun
bukan makna umum secara luas) akan memahami itu sebagai bahasa kiasan. Namun
ketika ada orang yang belum paham makna jonggol, akan mengartikanya secara
berbeda. Apalagi bertemu dengan orang yang belum tahu Jakarta termasuk jonggol.
Maka pemahamanya menjadi berbeda lagi.
Misal ketika anda duduk berdiskusi dengan
teman kerja sekantor, kemudian ada satu orang mengatakan “denger denger kita
ada bonus tambahan” dan kemudian teman satu lagi merespon “bonus tambahan dari
hongkong”. Maka yang lainpun akhirnya tersenyum kecut, karena itu hanya harapan
palsu, karena bonus itu seperti tidak ada alasan yang mendukungnya. Yang menariknya
mengapa Negara “Hongkong” yang disebut, mengapa tidak kutub utara atau Negara
lain yang jauh. Ini adalah kesepakatan tidak tertulis yang terbentuk secara
social, entah sengaja atau tidak disengaja.
Sebagai seorang sales ataupun leaders, anda akan
sangat efektif melakukan persuasive, bila mau menggali serta melakukan survey,
pola-pola bahasa ini dalam masyrakat. Seorang sales yang hebat sebenarnya
adalah seorang psikolog, sosiolog dan juga
seorang praktisi psychosemantic. Dia harus tahu bagaiamana ucapanya bisa
mempengaruhi cara berpikir maupun mental seseorang, terutama dalam membuat
keputusan pembelian.
Sekarang marilah kita simak, satu penelitian
kata “karena” yang dilakukan Ellen Langer, seorang psikolog dari Harvard,
ternyata manusia lebih mudah saat meminta orang lain melakukan hal tertentu
ketika memberikan alasan. Langer melakukan penelitian ketika orang antre
menggunakan mesin fotokopi di kampusnya. Ketika dia mau mendahului orang di
depannya, dia mengucapkan permintaan, "Maaf, saya punya lima halaman,
boleh saya menggunakan mesin fotokopi terlebih dahulu?"
Hasilnya 60 persen orang mengizinkan.
Kemudian ketika diberi alasan, "Maaf, saya punya lima halaman, boleh saya
menggunakan mesin fotokopi terlebih dahulu karena saya sedang buru-buru? Dengan
ditambah kata "karena" ini, efektivitas permintaan naik menjadi 94
persen yang mengizinkan Ellen Langer mendahului mereka.
Bahkan, hal serupa terjadi ketika di belakang
kata "karena" diberikan sesuatu hal yang tidak ada artinya. Contoh,
"Maaf saya punya lima halaman, boleh saya menggunakan mesin photo copy
terlebih dahulu karena saya sedang ditunggu orang”
Hasilnya, sekali lagi, 93 persen mengizinkan
Ellen Langer mendahului mereka walaupun tidak ada alasan yang layak
dipertimbangkan ataupun informasi baru yang bisa mereka gunakan untuk lebih
mengizinkan dia mendahului mereka dibandingkan dengan pertanyaan tanpa
menggunakan kata "karena". Penggunaaan dalam dunia marketing:
beritahukan bahwa penawaran yang Anda berikan adalah "karena"....
Misalnya, karena menyambut ulang tahun Anda,
karena Hari Kartini, karena Hari Kebangkitan Nasional, karena Hari Natal,
karena menjelang Lebaran, karena mau cuci gudang, karena mau tutup buku, dan
karena karena lainnya. Biasanya, orang tetap saja lebih senang menanggapi
penawaran kita daripada kita memberikan penawaran tanpa alasan sama sekali
(atau mungkin Anda pernah mengalaminya sendiri?)
Inilah dahsyatnya ilmu psychosemantics. Kami
sendiri saat ini menggabungkan ilmu psychosemantic ini dengan tehnik NLP atau
neuro linguistic programming. Bila anda berminat untuk mengambil sertifikasi
Psychosemantics NLP bisa menghubungi (021) 7919-1072 guna mendapatkan informasi
jadwal pelatihan dan hal lain yang ingin
anda ketahui.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar