Leadership atau kepemimpinan merupakan imu yang mungkin
tidak akan selesai kita pelajari sampai usia kita habis dimuka bumi ini. Mempelajari
Ledership seperti halnya mempelajari manusia
dan budayanya, yang senantias berkembang. Peran lederhsip yang sangat
vital baik di kehidupan personal, social ataupun professional dalam organisasi,
membuat banyak para pakar maupun peneliti mencari cara-acara baru untuk
memimpin guna mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konteks tujuan inilah di
dunia nyata sering terjadi kesalahan
penilaian tentang apa sebenarnya alat ukur keberhasilan kepemimpinan, apakah
tujuan perusahaan atau team yang kompak ataupun kontinuitas perusahaan dalam
jangka panjang
Kita banyak mengagumi pemimpin karena otaknya yang brilian,
keahliannya berstrategi, pengambilan keputusan yang tepat, keberanian mengambil
risiko atau kemampuan membawa perusahaan tumbuh besar. Kita bisa melihat bahwa
terkadang kesuksesan tidak berkorelasi dengan sikap pimpinan terhadap
bawahannya. Steve Jobs, misalnya, melegenda lebih karena kekuatan inovasi,
bukan hubungannya dengan manusia, begitu juga dengan T. Ford dll.
Ada bawahan yang bisa betah bertahun-tahun dalam organisasi
yang dipimpin atasan yang tidak simpatik atau bahkan jelas-jelas suka
mengadu domba. Keberhasilan mencetak laba dan melipatgandakan aset perusahaan
memang masih menjadi indikator utama kehebatan seorang pimpinan, bahkan
dijadikan ‘model’ manajemen yang dianggap ideal.
Pertanyaanya bagaimana dengan regenerasi? Apa yang terjadi
bila para pemimpin hebat lupa pada bagian ini? Tidakkah kita dengan mudah
melihat perusahaan segera akan mengalami krisis dan sulit mempertahankan
pertumbuhan usahanya? Dalam situasi ini, masihkah kita menilai para pemimpin
ini sebagai pemimpin yang efektif?
Pada tahun 2000, Harvad business Review memberikan informasi
riset Daniel Goleman’s Leadership That Gets Results, a landmark 2000 Harvard Business Review study. Goleman
and his team completed a three-year study with over 3,000 middle-level managers
Target
dari kegiata ini adalah untuk mengetahui dampak dari perilaku dan gaya
kepemimpinan seseorang dalam konteks profit perusahaan dan produktivitas team
dalam menghasilkan kinerja terbaik.
Hasilnya
“The research discovered that
a manager’s leadership style was responsible for 30% of the company’s
bottom-line profitability! That’s far too much to ignore. Imagine how much
money and effort a company spends on new processes, efficiencies, and
cost-cutting methods in an effort to add even one percent to bottom-line
profitability, and compare that to simply inspiring managers to be more kinetic
with their leadership styles. It’s a no-brainer”.
Riset Goleman juga menemukan 6 gaya kepepimpinan yang cocok
dalam beberapa konteks :
|
Jenis kepemimpinan
|
Gaya Kepemimpinan
|
Konteks Kepemimpinan
|
|
The Pacesetting Leader
|
“do as I
do know”
|
Diperlukan saat team sudah termotivasi dan ada kebutuhan
yag cepat
|
|
The authoritative leader
|
“Come
with me.”
|
Dibutuhkan saat team leader adalah seorang senior dan team
membutuhkan visi baru serta arah saat terjadi perubahan . Gaya ini aka sulit
saat team yang dipimpin para expertise atau mereka yang lebih senior
|
|
The affiliative leader
|
“People
come first.”
|
Dibutuhkan saat leader membutuhkan penumbuhan kepercayaan,
namun penggunaan gaya ini berlebihan akan mengakibatkan penurunan kinerjea
|
|
The coaching leader
|
“Try
this.”
|
Gaya yang sangat cocok untuk berbagai kondisi, terutama
saat perusahaan ini agar team mengeluarkan potensi terbaknya danmenaga
kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang
|
|
The coercive leader
|
“Do what
I tell you.”
|
Sangat tepat dalam kondisi perusahaan sedang krisis
|
|
The democratic leader
|
“What do
you think?”
|
Sangat tepat ketika leader ingin team punya ownership of a decision, plan, or
goal, atau saat leder kurang yakin dan butuh ide dari teammates. Gaya ini tidak cocok dalam
kondisi emergency
|
Dari table diatas kita bisa lihat
dalam kondisi perusahaan yang serba berubah dan juga trend pasar yang perlu diikuti trend , dibutuhkan
perusahaan yang bisa beradaptasi cepat dan
program regenerasi Leader yang efektif untuk memastikan perusaaan bisa bertahan saat
ini dan dalam masa yang akan datang. Dalam konteks ini gaya kepepimpinan
Coahing Leader yang paling tepat.
Tulisan ini tidak akan membahas
tentang coaching yang sudah banyak dibahas oleh para penulis lain diberbagai web
ataupun blok, tulisan ini ingin membahas Mengapa coaching leader dianggap
paling tepat dalam konteks kegiatan perusahaan sampai saat ini. Kita semua tahu
bahwa Coaching bukan proses Mentoring, Konsultasi, atau Terapi. Coaching juga
bukan sekedar proses kasih Motivasi yang
akhirnya redup beberapa bulan kemudian.
Setidaknya ada 5 alasan mengapa gaya kepemimpinan coaching leader
diperlukan :
- Faktor Intangible, merupakan fakta yang mempengaruhi kinerja team, namun memang sulit diukur. Hal-hal seperti Pengembangan manusia, penguatan budaya, reputasi dan image perusahaan memang hal yang ‘intangible’. Sampai hari ini pun mengukur laba jauh lebih mudah daripada mengukur ‘suasana kerja yang menyenangkan’. Banyak orang masih senang memperdebatkan mengenai “Apa hubungannya suasana menyenangkan dengan laba perusahaan?”, “Benarkah sikap kerja produktif betul-betul bisa melipatgandakan produktivitas?”. Di sisi lain, kita bisa melihat ada calon karyawan mengundurkan diri dengan alasan, “Perusahaan itu suasananya tidak menyenangkan, atasannya sangat cuek.”. Meski susah diukur, kita tahu memang hal-hal intangible ini adalah aset yang nyata-nyata ada. Itu sebabnya pemimpin ataupun organisasi yang berani memutuskan budget signifikan untuk menumbuhkan kepemimpinan, memperkuat leadership, maupun menyuburkan budaya positif di organisasinya bisa kita sebut punya visi masa depan yang jelas dan kuat.Kebutuhan kita semakin jelas. Kita butuh membangun tempat kerja yang ‘hidup’, di mana pikiran, talenta dan hati bersinergi satu sama lain. Kita butuh menyusun barisan yang bisa berespon terhadap perubahan yang tak terduga, dan berkecepatan seperti kilat ini. Kita tidak lagi bisa mengkontrol kekuatan pengambilan keputusan dari ‘kursi’ kita sendiri. Kalau bisa, seluruh karyawan dipersiapkan untuk berjaga-jaga dengan membentuk pemahaman, pengembangan dan kemampuan belajar yang tinggi, sehingga apapun perubahan, perusahaan bisa dengan fleksibel menanggulanginya. Dalam konteks inilah coaching dibutuhkan untuk mmberi kesempatan semua hal yang produktif baik dari keselarasan pikiran, potensi individu dan team serta berbagai hal yang tidak terlihat, bisa hadir menjadi leverage kesuksesan team guna membaga organisasi menuju puncak prestasi tertinggi.
- Faktor Tangible Selain faktor diatas tentulah, hal-hal yang menyangkut profit, sales target, hharga saham dan berbagai hal yang tangible lainya tetap harus menjadi perhatian. Pemimpin perlu menyadari juga bahwa factor tangible adala alat evaluasi untuk megukur kemampuan team dalam mengikuti rencana kerja serta ara kegiatan yag telah ditetapkan. Pada saat inilah pemimpin perlu mempraktekkan kemampuan komunikasi tingkat tinggi, kemampuan mendengar, bersabar, menunggu, dan merancang tugas-tugas progresif timnya, agar target bisa tercapai sesuai dengan yang ditetapkan. Kembali semua ini hanya bisa dilakukan bila gaya coaching dalam kepemipinan di terapkan.
- Faktor Kinerja, Setiap perusahaan ingin para individu dalam organisasinya menghasilkan kinerja maksimal demi terwujudnya tujuan organisasi. Hanya sering sekali, dalam keseharian terjadi kesenjangan antara misi pribadi maupun misi perusahaan. Misalnya kasus yang sering terjadi Seorang sales, yang secara internal dirinya merasa tidak bakat dalam pekerjaanya, Karyawan yang frustrasi karena pekerjaanya tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang diberikan, Karyawan yang merasa masa depanya tidak sesuai harapan diperusahaan dan banyak lagi. Untuk mengatasi ini, perusahaan bisa mempercayakan pada para pimpinan yang mempunyai coaching skills, untuk melakukan penyelasaran atau Goals alignment untuk menyelaraskan antara corporate goals dan personal goals serta bersama-sama mengejar goals melalui pengembangan potensi dirinya secara maksimal
- Faktor Jenjang Karir, dalam beberapa bahkan banyak industry kita masih sering melihat atau mendengar salesman top menjadi manajer, komputer programmer yang piawai kemudian menjadi team leader. Padahal tidak ada jaminan bahwa para profesional ini bisa mengakselerasi kinerja. Mereka bisa menggerakkan dirinya sendiri untuk berprestasi, tetapi bisakah menggerakkan orang lain dan timnya? Kompetensi teknis memang senantiasa menjadi jalan bagi individu untuk menapaki karier ke posisi leader. Namun, saat kita di posisi yang menuntut pengelolaan anak buah, kita perlu segera mengembangkan kemampuan interpersonal kita, seperti berkomunikasi, memberi masukan, mengajak, bersabar, mendengar, berkonfrontasi dan menanggulangi konflik. Kita juga belajar menyeimbangkan kekuatan kita dengan faktor-faktor eksternal seperti strategi, prioritas, dan hasil disamping ‘values’, sasaran, dan ‘self awareness. Pada saat inilah seseorang perlu melangkah lebih jauh dan mulai mempersiapkan kompetensi ‘coaching’ dalam kepemimpinannya.
- Faktor Pengawasan & evaluasi, Pemimpi perlu memaham bahwa cara mengawasi secara ketat dan melakukan evaluasi terus menerus akan membuat dirinya terjebak pada rutinitas, yangmengakibatkan tidak ada pengendali jalanya group atau unit team. Cara pengawasan ini melelahkan bahkan membuat stress para pemimpin. Padahal para pemimpin ini perlu juga belajar lagi, seperti membuka buku, ikut seminar atau hal lainya yang bisa membuat dirinya skillfull dalam memimpin. Dalam konteks inilah coaching sangat efektif digerakan, coaching akan membantu karyawan mempunyai “automatic inner motivation” untuk mencapa prestasi terbaik dari yang bisa mereka capai
Tantangan terbesarnya saat ini adalah
bagaimana mengajarkan tehnik coaching untuk para manajer maupun leader di
perusahaan? Mengingat coaching bukanlah sebuah skill yang sudah dimiilki sejak
lahir dan hanya sedikit lembaga training mengajarkan tehnik coaching untuk para
leader secara komprehensif untuk menjadi “effective Coach”
Tehnik kompetensi coaching skils sangat
berberda dengan gaya manajemen atau supervisi yang ada, coaching merupakan ilmu
baru yag perlu di pelajari secara komprehensif. Bisa jadi hanya dihitung dengan
jari lembaga yang mengajarkan tehnik coaching yang efektif secara komprehensif.
Dan dalam hal ini BALE training merupakan salah satu institusi yang perdul
bersama universitas azzahra mengadakan pelatihan untuk para leader yang
dipadukan dengan konsep danmetodologi tehnik NLP atau neuro inguistic programming.
Nama pelatihanya adalah “Neuro Linguistic coaching Leader”
Sekarag semua kembali pada organisasi,
pembuktian serta riset coaching dari berbagai institusi sudah sangat banyak ,
lembaga yang siap mengajarkan tehnik coaching pun sudah ada serta fakta-fakta
dilapangan membuktikan bahwa perusahaan yang akan bertahan dan melaju menuju prestasi
puncak karena didukung kemampuan leadernya dalam membangun team solid yang
penuh ambisi meraih kinerja tertinggi dari yang bisa dicapai oleh team. Dan
anda tentu setuju, bahwa yang dibutuhkan untuk mewujudkan semua ini adalah
kepemimpinan dengan gaya coaching.
